Sabtu , 26 September 2020
Home / Breaking News / Bidan Meta Kosasih, Kampanyekan Tahu Tempe dari yang Biasa, Menjadi Luar Biasa

Bidan Meta Kosasih, Kampanyekan Tahu Tempe dari yang Biasa, Menjadi Luar Biasa

Meta Kosasih, A.Md. Keb

NAMA bidan Meta Kosasih, A.Md. Keb di Desa Sengkuang Kecamatan Tanjung Agung Palik, Kabupaten Bengkulu Utara, sudah sangat dikenal. Sudah delapan tahun, tepatnya sejak 2012, ia mengabdi untuk kampung halamannya.

Terinspirasi dari sang kakak yang sudah lebih dulu berprofesi sebagai bidan, membuat Meta memilih jalur serupa. Selepas tamat dari SMA 1 Kerkap, Meta mantap mengambil pendidikan kebidanan di Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang berada di Kota Bengkulu.

“Saya melihat kakak bekerja sebagai bidan banyak menolong orang. Orangtua juga mensupport saya menjadi seorang bidan. Saya bahagia menjadi bidan karena saya memang senang berada ditengah-tengah mereka,” tutur Meta membuka percakapan saat ditemui di rumahnya Jalan Semarak I RT. Kelurahan Bentiring.

Bagi Meta, menjadi bidan desa di Sengkuang ia dedikasikan kepada tanah kelahirannya, sekaligus sebagai bentuk pengabdian kepada orangtua. Selama bertahun-tahun Meta menjalankan tugas sebagai bidan desa, sekaligus merawat sang ibu yang terkena stroke. Hal itu membuatnya kerap terpisah dengan sang suami, Sudiyanto Prabowo, yang bekerja di perbankan syariah yang ada di Kota Bengkulu. Mengingat buah hatinya, Fatih Genta Yudhistira, kini sudah menginjak usia 6 tahun akan masuk ke sekolah dasar, perjuangan Meta pun bertambah ekstra. Ia akhirnya memutuskan untuk pindah kembali ke Kota Bengkulu.

Jika sebelumnya ia menetap di Desa Sengkuang, kini setiap hari ia berkendara menempuh perjalanan 1 jam Kota Bengkulu – Desa Sengkuang. Putra bungsunya Fatur Hisyam Athalah yang berusia 2 tahun juga butuh perhatian ekstra dan ingin dekat dengan ayahnya.
“Biarpun tinggal di Bengkulu, saya stand by siaga 24 jam. Begitu ada panggilan, maka saya akan langsung berangkat ke Desa Sengkuang. Kadang ya pulangnya sampai tengah malam, sendirian. Untungnya jalur dari kota ke desa, cukup ramai truk angkutan yang melintas. Jadi tidak terlalu khawatir,” ungkap ibu dua anak ini.

Di Desa Sengkuang, Meta tidak membuka praktik secara khusus. Sebagai bidan desa, ia ditempatkan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Sengkuang. Selama bertugas ada berbagai pengalaman menarik yang ia lalui. Yang paling terkenang adalah ketika dalam waktu hampir bersamaan, Meta dihadapkan dengan dua pasien yang akan melahirkan di rumah berbeda. Menurutnya ini hal yang langka terjadi.

“Waktu itu saya masih bidan baru. Pengalaman belum seberapa. Belum ada yang bantu juga (asisten). Malam dihubungi ada yang mau melahirkan. Lagi menolong persalinan yang satu, sudah ada lagi yang jemput karena ada warga lain yang mau melahirkan juga,” ujar Meta.

“Untungnya ibu yang pertama ditolong sudah selesai persalinannya. Tangan masih berdarah-darah, langsung berangkat ke rumah pasien yang satu lagi. Alhamdulillah, dua-duanya ibu dan bayi selamat,”tambah wanita kelahiran Desa Sengkuang, 21 Mei 1990 ini.

Sebelumnya, Meta memang acapkali menolong pasien dari rumah ke rumah. Namun setelah ada kebijakan dari pemerintah daerah, pertolongan pasien melahirkan wajib dilakukan di Puskesmas. Sebab pasien yang melahirkan harus mendapat fasilitas kesehatan yang memadai. Itu sebabnya sekarang bidan Meta biasa ditemui pasiennya di Pustu Desa Sengkuang.

Selain melayani persalinan, sebagai bidan desa, Meta biasa menerima konsultasi ibu-ibu tentang kehamilan, gizi dan nutrisi anak, suntik program Keluarga Berencana (KB) hingga pengobatan ringan untuk flu, batuk dan pilek. Selama ini ia tidak pernah menetapkan tarif layanan. “Warga bisa bayar semampunya. Yang tidak membayar juga ada,” ujar Meta.

Giatkan Program Amanat

MEMBAUR: Bidan Meta di tengah-tengah warga yang rutin ikut program senam Amanat. (foto: ist/rb)

Di Desa Sengkuang, Meta menjadi penggerak Program Amanat (Ayo Makan Tahu Tempe). Program dikemas dalam bentuk senam sehat mingguan dengan menyisipkan kampanye makan tahu dan tempe untuk pemenuhan gizi dan nutrisi anak. Setiap Jumat, perempuan Desa Sengkuang yang didominasi kaum ibu, wajib membawa makanan yang berbahan dasar tempe dan tahu. Setiap habis senam, semua peserta termasuk tenaga kesehatan di Pustu Desa Sengkuang, makan tahu tempe bersama.

Sesekali ada demo memasak untuk memodifikasi tempe dan tahu menjadi menu menarik. Seperti memasak nugget tempe, kue bolu tahu dan bolu tempe. Bahkan tempe bisa dijadikan pudding.

“Harapannya tentu saja anak-anak jadi suka. Kalau digoreng terus kan bosan. Anak-anak kurang tertarik. Makanya kita harus berkreasi dengan menunya. Prinsipnya menjadikan tahu tempe dari bahan makanan yang biasa, menjadi luar biasa,” ujar Meta.

SENAM: Kegiatan senam yang diadakan di Pustu Desa Sengkuang. (foto: ist/rb)

Lantas mengapa tahu dan tempe yang dipilih? Menurut Meta, tahu dan tempe memiliki kandungan gizi yang tinggi yang sangat baik. Terutama untuk ibu hamil dan pertumbuhan anak. Tahu dan tempe yang berbahan dasar kedelai memiliki kandungan karbohidrat, lemak, protein, zat besi, kalium, kalsium, magnesium, vitamin B, zinc, cooper dan mangan dalam jumlah banyak.

“Kami mengajak mereka (warga) untuk makan tahu dan tempe. Harganya terjangkau dan mudah didapat. Tahu dan tempe sebagai sumber protein nabati yang baik bagi ibu dan anak karena mengandung berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan,” ungkap Meta.

Untuk melaksanakan senam Amanat di desanya, Meta juga sempat menghadapi tantangan. Tantangannya mengajak warga untuk aktif. Di sana, perempuan mayoritas ibu rumah tangga dan petani. Selama ini aktivitasnya ke kebun atau di rumah saja. Di awal-awal hanya beberapa orang saja yang merespin program Amanat.

“Beberapa orang ini dirangkul terus. Lalu mereka mengajak tetangganya yang lain. Kegiatannya pun divariasikan supaya semangat. Salah satu penyemangatnya, saya sempat mencari donatur. Kami buat lomba. Walau hadiahnya tidak seberapa, tapi warga jadi semangat berlatih. Tadinya kami juga berencana membuat lomba memasak bahan tahu dan tempe. Mudah-mudahan bisa terlaksana setelah musim virus corona berakhir,” tutur Meta.

Sekarang, program senam Amanat di Desa Sengkuang sudah rutin berjalan. Bidan Meta dan warga pun punya yel-yel khusus. “Tahu, Tempe, Mantap Gizinya.”

Bidan di Tengah Pandemi

PUSTU SENGKUANG: Bidan Meta saat penyerahan hadiah kegiatan di Pustu Desa Sengkuang. (foto: ist/rb)

Ditengah pandemi Corona Virus Disease (Covid) 19, tantangan bidan pun bertambah. Tergabung ke dalam Gugus Covid Desa, bidan berperan sebagai ujung tombak. Khususnya dalam menyosialisasikan tentang pencegahan Virus Corona, baik ke perangkat desa yang juga tergabung dalam Gugus Covid-19, juga kepada masyarakat.

Ia merasa bersyukur dukungan Pemerintah Daerah Bengkulu Utara sangat baik. Pustunya mendapat bantuan brosur, yang bisa dibagi-bagikan ke warga sebagai bahan sosialisasi.

“Kami sudah sosialisasikan kepada warga untuk mengenakan masker saat keluar rumah, rajin cuci tangan selama 20 detik minimal menggunakan sabun. Juga physical distancing alias jaga jarak fisik. Kalau ada yang baru pulang dari daerah lain, saya sudah mengingatkan ke warga untuk tidak langsung melakukan kontak fisik seperti bersalaman. Sebab kebiasaan di desa, jika ada yang baru datang dari luar kota, biasanya akan dikunjungi oleh tetangganya,” kata Meta.

Sadar Gizi Sejak Remaja

Untuk kedepannya, Meta berharap semakin banyak lagi perempuan yang sadar akan gizi dan nutrisi. Kesedaran ibu bukan hanya setelah menjadi ibu. Justru menurutnya sejak remaja, perempuan harus sudah peduli akan kesehatannya.

Remaja putri harus giat makan bergizi dan bernutrisi. Tambah vitamin, seperti tablet Fe (baca: ef e) penambah darah. “Jadi kelak saat sudah hamil, menjadi calon ibu, gizinya sudah seimbang dan siap melahirkan anak-anak Generasi Maju,” ujar Meta.

Apalagi penyebab stunting pada anak (tinggi badan kurang) bukan hanya disebabkan karena faktur kekurangan gizi dan nutrisi saat pertumbuhan. Stunting juga dipengaruhi kondisi gizi ibu. Berat badan lahir rendah, membuat si kecil berpotensi menjadi stunting.

“Maka dari itu, sejak masih jadi calon ibu sudah harus peduli gizi. Berikan anak Air Susu Ibu (ASI) ekslusif selama enam bulan. Saat mulai memberikan MPASI (Makanan Pendamping ASI), bayi jangan hanya diberi bubur beras saja. Tambah sayur dan bahan makanan lainnya yang mengandung protein, vitamin dan gizi yang baik,” ungkap Meta. (ken)

TESTIMONI

Neni Ningsih (Pasien Bidan Meta)

Beri Pelayanan Terbaik

“Bidan Meta sudah kami kenal dengan baik. Peran beliau sangat besar khususnya untuk para perempuan Desa Sengkuang. Kami biasa mendapat pelayanan kesehatan, termasuk saat hamil dan melahirkan. Bidan Meta bukan hanya menjadi bidan yang menolong persalinan saja atau sebagai tenaga kesehatan di puskesmas. Tapi juga mengatifkan kegiatan di desa kami. Warga desa, ibu-ibu di desa kami selama ini kurang terlalu peduli berolahraga. Namun sejak program Senam Amanat aktif dilaksanakan, semuanya jadi semangat dan aktif. Apalagi yang diadakan itu kegiatannya bermacam-macam. Ada lomba senam, demo memasak, cek kesehatan, kami jadi bersemangat olahraga.”

Alamat Praktik: Puskesmas Desa Sengkuang. Nomor HP 085222999588

Berita Lainnya

Timbulkan Kemacetan, Pedagang di Jembatan Semarang Bakal Ditindak

BENGKULU – Setelah menerima banyaknya laporan terkait semakin maraknya pedagang yang membuka lapak berjualan di …

%d blogger menyukai ini: