Kamis , 3 Desember 2020
Home / ACT / Krisis Air di Taiz Tak Berkesudahan

Krisis Air di Taiz Tak Berkesudahan

ANTRE: Warga di wilayah Al Mudhafar, Taiz, Yaman, mengantre air bersih akhir Agustus lalu.

Taiz, salah satu kota di barat daya Yaman, amat kekurangan air bersih. Perang membuat pasokan air di wilayah kering itu terhenti.

TAIZ – Air menjadi barang mahal untuk warga Salah dan Al Mudhafar, Taiz, Yaman. Perang bukan hanya menjerat warganya dengan kemiskinan, tetapi juga dengan kekurangan pasokan air bersih.

Berdasarkan asesmen tim Global Humanity Response – Aksi Cepat Tanggap, masyarakat Salah dan Al Mudhafar bahkan tidak memiliki pekerjaan untuk mendukung kehidupan mereka. Hal itu semakin memberatkan mereka membeli air bersih.

Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response – Aksi Cepat Tanggap menjelaskan, masyarakat Taiz sudah lama mengalami krisis air karena pasokan air terhenti yang terhalau peperangan. “Pelayanan air bersih dari pemerintah untuk masyarakat terhenti saat perang meletus di wilayah itu. Hal itu pun memperburuk keadaan karena semakin memperburuk ekonomi,” jelas Said.

Agustus lalu, sebagai ikhtiar membantu masyarakat Taiz dari kekeringan, dilakukan Aksi Cepat Tanggap selama 10 hari pada 20-30 Agustus lalu. Melibatkan 13 truk berkapasitas 3.000 liter per truk. Ada 13 titik distribusi setiap harinya. Truk-truk ini memberikan pelayanan air bersih mencapai sekitar 39.000 liter per hari dan dinikmati hingga 9.000 jiwa.

“Penuhi kebutuhan air bersih saudara di Yaman dengan bantuan air bersih kita. Sedekah terbaik Sahabat Dermawan dapat dikirimkan melalui rekening BNI Syariah 88 0000 4348 atas nama Aksi Cepat Tanggap,” kata Said.

Perang saudara membuat jutaan warga Yaman kelaparan. Diperkirakan 80 persen penduduk membutuhkan bantuan kemanusiaan. PBB mengatakan, krisis Yaman adalah krisis kemanusiaan terburuk di dunia. (rls)

Berita Lainnya

Merespon Banjir Kalimantan di Tengah Pandemi Covid-19

Banjir yang menggenangi sejumlah kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan belum juga surut. …

%d blogger menyukai ini: