Sabtu , 24 Oktober 2020
Home / Daerah / Bengkulu Selatan / Abrasi Sungai Ancam Permukiman Warga

Abrasi Sungai Ancam Permukiman Warga


ABRASI: Ketua DPRD BS, Barli Halim dan Waka II Dendi Man Tarmizi melihat abrasi yang terjadi di Sungai Air Nipis yang mengancam pemukiman warga Desa Darat Sawah, Selasa (13/10). (Foto RIO/RB)

AIR NIPIS – Puluhan rumah warga Desa Darat Sawah, Kecamatan Seginim dan Desa Maras, Kecamatan Air Nipis terancam terkena abrasi. Hal itu disebabkan aliran Sungai Air Nipis yang tidak terkendali dan membuat aliran sungai bergeser.

Pjs Kades Darat Sawah, Irtawan mengatakan, sedikitnya ada 35 rumah warganya terancam rusak akibat abrasi sungai. Sebab semakin hari, aliran sungai semakin mendekat ke kawasan permukiman. Bahkan saat sungai meluap, bagian belakang rumah warga sudah ada yang terendam.

“Harapannya secepatnya ditangani, kalau tidak rumah warga kami akan tergerus ke sungai,” terang Irtawan.

Ditambahkannya, abrasi Sungai Air Nipis di Desa Darat Sawah terjadi sejak 2019 lalu. Selain itu lahan warga yang dulunya sawah juga digerus air. “Untuk lahan pertanian sudah banyak yang rusak, dan yang paling kami takutkan ialah rumah warga ikut terkena abrasi,” ujar Irtawan.

Oleh sebab itu, untuk mengatasi ancaman abrasi, Sungai Air Nipis perlu dinormalisasi. Namun normalisasi tidak akan diserahkan ke pihak ketiga seperti yang pernah terjadi tahun 2017 lalu. Biaya normalisasi akan dianggarkan melalui APBD. Proses pekerjaannya nanti dilakukan dengan cara mengeruk bagian tengah sungai untuk mengalihkan aliran air yang mengarah ke pemukiman penduduk. Setelah dikeruk, akan dibangun tanggul penahan di masing-masing sisinya sebagai penahan agar aliran sungai tidak berpindah lagi.

“Untuk teknis pekerjaannya kami serahkan ke OPD teknis. Kalau kami dari DPRD mendukung penganggaran, dan soal abrasi ini ada solusinya. Sehingga warga bisa tenang tanpa perlu khawatir pemukiman tergerus air sungai,” kata Ketua DPRD BS, Barli Halim, SE didampingi Waka II, Dendi Man Tarmizi, SE, SH saat meninjau abrasi yang terjadi di sungai tersebut, kemarin (13/10).

Normalisasi akan didahulukan di Desa Darat Sawah. Sedangkan di Desa Maras akan dilakukan berikutnya. Hal itu karena terbatasnya anggaran daerah. Sebab dari kajian teknis Dinas PUPR, normalisasi di Desa Maras biayanya lebih besar dibanding normalisasi di Desa Darat Sawah. Namun ancaman abarasi di dua lokasi itu akan dicarikan solusi jangka panjang oleh pemerintah daerah. Salah satunya dengan menyampaikan usulannya ke Balai Wilayah Sumatera VII.(tek)

Berita Lainnya

Berkas Tersangka Pedofil Segera Dilimpahkan

BENGKULU – Satreskrim Polres Bengkulu dalam waktu dekat melimpahkan berkas tersangka KR (48), warga Kelurahan …

%d blogger menyukai ini: