Minggu , 28 Februari 2021
Home / Breaking News / Inklusi Perbankan Terhadap UMKM di Masa Pandemi

Inklusi Perbankan Terhadap UMKM di Masa Pandemi

Penurunan pendapatan dan kesulitan modal kerap menjadi kendala bagi UMKM. Dengan literasi dan inklusi yang diterapkan, perbankan membuka pintu selebar-lebarnya untuk membantu UMKM.

JAKARTA – Situasi pandemi Covid-19 saat ini memberikan pukulan berat bagi para pelaku UMKM diantaranya kesulitan mendapatkan bahan baku, kesulitan permodalan, dan lainnya. Di sisi lain, kinerja UMKM yang kurang begitu baik di masa pandemi bisa mengurangi kepercayaan lembaga keuangan seperti perbankan dalam pengucuran kredit padahal masih banyak UMKM yang belum mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan. Meski demikian, perbankan terus membuka peluang bagi UMKM melalui literasi dan inklusi keuangan.

Pada Juli lalu, Kementerian Koperasi dan UKM melansir bahwa jumlah UMKM di Indonesia mencapai 64 juta unit usaha atau 99% dari total unit usaha di dalam negeri. Kontribusi UMKM terhadap PDB nasional adalah sekitar 61%. Kementerian Koperasi dan UKM juga menyebutkan bahwa UMKM tersebut tersebar hampir merata di seluruh Tanah Air dengan berbagai macam permasalahan yang dihadapinya, antara lain pembiayaan, kelembagaan, pemasaran, dan pengembangan usaha.

“Perbankan membuka kesempatan selebar-lebarnya dan kami memberikan solusi bagi UMKM terkait dengan persoalan pembiayaan melalui literasi dan inklusi keuangan. Hal ini harus dijalankan berbarengan agar UMKM bisa mendapatkan pembiayaan dan juga makin berkembang,” ujar Head of Secured Lending Retail & SME Bank Commonwealth Weddy Irsan dalam webinar Banking Editors Masterclass (BEM) yang diadakan oleh Bank Commonwealth bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Jakarta.

Di masa pandemi ini, lanjut Weddy, Bank Commonwealth melihat bahwa UMKM terkendala dengan kesulitan distribusi / penjualan produk, kesulitan mendapatkan bahan baku akibat banyak supplier yang kesulitan dalam memproduksi atau tutup, kesulitan likuiditas dengan modal yang terbatas, hingga mengalami penurunan pendapatan.

Menurut Weddy, sebetulnya UMKM berpeluang menjadi lebih berkembang lagi. Berdasarkan Data Bank Indonesia, pada kuartal II 2020, terjadi peningkatan volume transaksi belanja di e-commerce sebesar 383,5 juta kali. Jumlah tersebut naik 39,05% dibanding dengan kuartal I 2020 sebesar 275,8 juta kali. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan transaksi e-commerce di masa pandemi meningkat sebesar Rp429 triliun sepanjang 2020. Peningkatan ini lebih tinggi dibanding transaksi sebesar Rp205,5 triliun sepanjang 2019.

“Hal ini menunjukkan bahwa pasar UMKM terbuka lebar di e-commerce dan bisnisnya bisa terus berjalan. UMKM harus bisa beradaptasi di sini karena market mulai terbiasa berbelanja secara online dan akan terus dilakukan meski pandemi berakhir,” jelas Weddy.

Weddy melanjutkan, bagaimana pihak perbankan dapat mendukung UMKM agar bisa bertahan di masa pandemi ini. Dengan memanfatkan teknologi digital untuk menjangkau lebih banyak pelaku UMKM, Bank Commonwealth berupaya menerapkan literasi sekaligus juga inklusi keuangan terhadap pelaku UMKM. Dalam menjalankan literasi keuangan, Bank Commonwealth melalui program WISE (Womenpreneur Indonesia for Sustainability and Empowerment) menggandeng Bukalapak memberikan kelas edukasi keuangan untuk komunitas UMKM Srikandi Bukalapak, hingga Desember 2020 sebanyak 60 ribu pebisnis UMKM telah teredukasi melalui kelas WISE bersama Bukalapak.

“Kami melakukan edukasi keuangan misalnya bagaimana menjaga cashflow dengan lebih baik lagi apalagi di masa pandemi seperti ini banyak pebisnis yang cashflownya kurang terjaga akibat modal yang terbatas dan pendapatan yang menurun,” jelas Weddy.

Selain itu, Bank Commonwealth juga menggandeng MasterCard dan Mercy Corps Indonesia untuk membantu pengusaha UMKM Indonesia mendorong pertumbuhan bisnis UMKM melalui pendampingan secara digital dengan platform MicroMentor. Hingga Desember 2020, lebih dari 4.000 mentees atau pelaku UMKM bergabung di platform MicroMentor. Dalam tahun pertamanya, program ini sudah berhasil menciptakan 1,158 pekerjaan baru bagi pelaku UMKM di platform ini.

Dari sisi inklusi keuangan, Bank Commonwealth membangun ekosistem digital untuk mendukung perkembangan UMKM melalui pemberian pinjaman secara online yang berkolaborasi dengan platform merchant digital serta mendukung kemudahan bertransaksi di masa pandemi dengan solusi layanan perbankan digital. Bank Commonwealth juga menjalankan program relaksasi kredit UMKM yang terdampak pandemi secara digital tanpa perlu tatap muka langsung.

Weddy juga menambahkan, di masa pandemic ini UMKM masih tetap bisa mendapatkan pembiayaan dari Bank, kriteria yang diterapkan Bank di antarannya adalah perijinan lengkap, informasi/laporan keuangan, prospek bisnis yang baik “Jika kriteria tersebut dipenuhi lengkap, Bank akan dengan mudah mengucurkan pembiayaan,” tutup Weddy. (rls)

Berita Lainnya

Pilkades Serentak di Kaur, Dipantau Kemendagri

KOTA BINTUHAN – Pilkades pertama setelah Pilkada serentak di Bengkulu hingga saat ini masih berjalan. …

%d blogger menyukai ini: