Sabtu , 24 Juli 2021
BANNER


BANNER


BANNER
Home / Bengkulu Raya / Bengkulu Selatan / Hanya Sediakan 700 Vaksin Jembrana

BANNER


BANNER

Hanya Sediakan 700 Vaksin Jembrana

Ilustrasi

KOTA MANNA – Ketersediaan vaksin jembrana selama tahun 2021 turun drastis. Dinas Pertanian Bengkulu Selatan hanya mampu menyediakan 500 vaksin jembrana dari dana APBN dan 200 dari dana APBD. Tahun 2020 lalu, Dinas Pertanian Bengkulu Selatan melalui Bidang Peternakan menyebutkan ada 2.400 dosis vaksin jembrana yang didapatkan dari dana APBN.

Penyakit jembrana merupakan salah satu kekhawatiran tersendiri bagi para peternak sapi. Penyakit ini sangat mematikan. Untuk mencegahnya dilakukan dengan vaksin jembrana. Namun ketersediaan vaksin ini sangat terbatas dari pemerintah.

Jumlah vaksin yang tersedia tersebut sangatlah sedikit. Tidak sebanding dengan banyaknya jumlah hewan ternak di Kabupaten BS. Ditambah lagi kasus kematian hewan ternak akibat jembrana. Untuk tahun 2020, terdapat 107 kasus sapi mati akibat penyakit jembrana. Jumlah tersebut hanya periode September hingga Desember 2020. Sedangkan tahun 2021, Dinas Pertanian mencatat sudah 210 kasus kematian sapi akibat jembrana.

Kabid Peternakan Dinas Pertanian Bengkulu Selatan, Okty Feriyenni S.Pi, MM mengatakan, masyarakat diminta untuk melaporkan ke petugas apabila mendapati hewan ternak yang sakit. Petugas peternakan telah disebar di 11 kecamatan, atau warga pemilik ternak dapat datang langsung ke kantor Dinas Pertanian Bengkulu Selatan.

Ia menyebutkan, vaksin jembrana gratis. Bahkan pelayanan selama jam dinas juga gratis. Untuk itu masyarakat diminta intens melakukan pengawasan terhadap ternaknya. “Kalau jumlah vaksin dari APBN sudah habis terpakai, tapi kita masih menyediakan dari vaksin yang dibeli dari dana APBD. Silakan hubungi petugas kecamatan. Pelayanan gratis kalau selama jam dinas,” kata Okty.

Okty membeberkan, asal mula penyakit jembrana ini berasal dari luar kabupaten. Untuk bulan Juni 2021, mayoritas sapi mati di Kecamatan Pino Raya. Asal kasus dari Kabupaten Seluma.

Untuk itu ia tetap berharap pada masyarakat yang ingin membeli sapi dipastikan kesehatannya. Apalagi sapi yang dibeli adalah sapi liar. “Kebanyakan penyakit jembrana ini berasal dari sapi yang dilepasliarkan, bebas tidak terkontrol dengan baik. Kalau dikandangkan pastinya akan lebih terawasi,” jelas Okty.(tek)

Berita Lainnya

Kerugian Tak Sampai Rp 100 Juta, Kejari Berencana Hentikan Pengusutan Proyek Mangkrak

SELUMA – Pengusutan dugaan korupsi pembangunan gedung baru kantor Dinas Pendidikan (Dispendik) Seluma, jalan di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: