Rabu , 25 Agustus 2021
BANNER


BANNER


BANNER
Home / KESEHATAN / IDI Ingatkan Kesalahan Fatal Pasien Saat Lakukan Isoman

BANNER


BANNER

IDI Ingatkan Kesalahan Fatal Pasien Saat Lakukan Isoman

 

isolasi mandiri
NAKES: Petugas medis di Kota Bengkulu saat melakukan pendampingan dan pengobatan kepada warga sedang isolasi mandiri beberapa waktu lalu. (foto: dok/rb/RBOnline)

 

RB ONLINE –  Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membeberkan salah satu kesalahan fatal yang dilakukan pasien Covid-19 saat menjalani isolasi mandiri yang berakibat fatal.
Ketua Persatuan Besar (PB) IDI dokter Daeng M. Faqih menyebutkan hingga saat ini kesalahan terbesar dari para pasien isolasi mandiri karena tidak adanya pemantauan dan pengawasan dari tenaga medis.

Seringnya pasien isolasi mandiri baru mencari pertolongan dokter atau tenaga medis ketika kondisi benar- benar sudah memburuk dan terlambat untuk ditangani.

BACA JUGA: Pandemi Tak Pengaruhi Jumlah Wanita Hamil, Di Mukomuko sudah 1.703

“Maka dari itu penting untuk konsultasi rutin hingga sembuh, karena kalau terhubung dengan dokter misalnya lewat layanan telemedisin tentu akan lebih baik penanganannya karena ada pendampingan ahli dan ada juga pemberian terapi obat yang lebih terarah,” katanya seperti dikutip dari Antara, Minggu (25/7).

Daeng menyarankan pasien Covid-19 isoman untuk setiap hari saat berkonsultasi pada nakes. Pengawasan dari tenaga medis dan dokter memang dibutuhkan agar angka kesembuhan Covid-19 pada pasien bisa semakin tinggi dan peluangnya semakin besar.

“Hal yang utama dalam konsultasi saat isolasi mandiri itu jangan lupa sampaikan perkembangan gejala, serta hasil observasi mandiri ya mulai dari respiratory rate, suhu, dan kadar saturasi oksigen,” kata dokter Daeng. Dokter Daeng juga menyebutkan selama isolasi mandiri pasien Covid-19 tidak boleh melakukan kegiatan yang menyebabkan kelelahan pada fisik dan mental.

Pasien boleh berolahraga, namun dalam jumlah yang normal dan tidak mengganggu kadar oksigen di dalam tubuh.  Selama isolasi mandiri, pasien Covid-19 pun tidak perlu merasa panik dan sebisa mungkin selalu berpikiran positif dengan berbagai cara misalnya dengan menghubungi kerabat secara virtual atau bisa juga sambil membaca buku.

Pada saat isolasi mandiri, pasien juga harus mampu mengenali ciri- ciri perburukan gejala. Selain memantau kadar oksigen dan suhu tubuh pasien bisa mengenali gejala perburukan dengan mengecek jumlah hembusan nafas. Jika respitatory rate sudah melebihi 24 kali dalam waktu satu menit artinya pasien sudah mengalami durasi nafas yang lebih pendek. Baca Selanjutnya>>>

Berita Lainnya

Buntut Pembekuan BEM Fakultas Hukum Unib, Ratusan Mahasiswa Demo Dekanat

BENGKULU – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa se-Universitas Bengkulu (Unib) menggelar aksi unjuk rasa di depan …

%d blogger menyukai ini: