Minggu , 28 November 2021
BANNER


BANNER


BANNER


BANNER


BANNER
Home / Bengkulu Raya / Curup Pos / Jejak Oeang Repoeblik Indonesia Daerah (ORIDA) Curup

Jejak Oeang Repoeblik Indonesia Daerah (ORIDA) Curup

Wimmy Hartawan, M.Cs menunjukan koleksi uang cetak Curup dan Bengkulu miliknya. Inset: Uang Rp 40 cetakan Percetakan ORIDA Curup koleksi Wimmy Hartawan, M.Cs. (Foto: Wanda/RB)

Mungkin saat ini tidak banyak yang paham apalagi mengetahui tentang bagaimana sejarah Kota Curup pada zaman pascakemerdekaan RI pda 17 Agustus 1945 lalu. Terlebih soal sejarah Kota Curup sempat menjadi ‘Ibukota Darurat’ bersama Kota Lubuklinggau, termasuk cerita soal Kota Curup pernah memiliki percetakan uang pascakemerdekaan.

Hal ini yang akan coba digali kembali Harian Rakyat Bengkulu dari berbagai tulisan dan cerita narasumber yang sempat didapatkan di Kabupaten Rejang Lebong. Meskipun belum sepenuhnya terang, tapi sedikit demi sedikit RB akan mencoba mengungkap berbagai fakta terkait percetakan uang tersebut.

RB mengawali mencari informasi dengan menemui seorang pemerhati sejarah Rejang Lebong sekaligus kolektor mata uang Wimmy Hartawan, M.Cs yang tinggal kawasan Curup Tengah. Dimana dirinya mengaku sudah memiliki koleksi lims varian uang kertas cetakan Bengkulu dan 1 cetakan Curup. Masing-masing Rp 40 cetakan Curup, lalu Rp 1.000, Rp 500, Rp 250 dan Rp 1 cetakan Bengkulu.

‘’Saat ini saya masih berupaya mencari koleksi Rp 10 dan Rp 100 cetakan Bengkulu,’’ sampai Wimmy mengawali cerita.

Ketertarikan dirinya yang merupakan putra asli Rejang Lebong ini, sambung Wimmy, diawali dengan mencari informasi dari forum kolektor mata uang (numismatik) di internet. Kemudian mencari data dan informasi dari buku katalog Oeang Repoeblik Indonesia Daerah (ORIDA) untuk mendapatkan informasi tentang ORIDA cetakan Curup.

Selain itu, sambng Wimmy, dirinya juga mendapatkan informasi dari beberapa karya ilmiah atau tulisan beberapa penulis. Salah satunya tulisan Arafah Pramasto, S.Pd dan Sapta Anugrah, S.Pd yang berjudul ‘ORIDA Curup: Menjaga Kedaulatan Mata Uang Era Kemerdekaan’. Dari tulisan tersebut cukup banyak informasi dan cerita tentang sejarah ORIDA Curup karena memang digali dari sumber yang akurat serta dari keturunan langsung pelaku sejarah.

‘’Berdasarkan berbagai informasi inilah saya juga sempat mendatangi lokasi bekas gedung percetakan ORIDA Curup yaitu di wilayah yang sekarang ini perbatasan antara Kelurahan Jalan Baru dan Kelurahan Pasar Tengah. Namun saat ini kondisi di lokasi tersebut kemungkinan sudah tidak ada lagi sisa fisik bangunan bekas gedung percetakan uang tersebut,’’ sampai Wimmy.

Namun untuk mesin cetaknya sendiri, sambung Wimmy, saat ini sudah berada di Museum Bengkulu di Kota Bengkulu. ‘’Karena setelah gedung atau kawasan lokasi percetakan ORIDA Curup dihancurkan serta dibakar Belanda, mesinnya sudah tidak bisa dipakai lagi. Sehingga disimpan di Museum Bengkulu,’’ imbuh Wimmy.

Dedi Goslow salah satu warga Kelurahan Pasar Tengah menunjukan bekas bangunan lama milik kakeknya dulu.

Setelah mendapatkan sedikit cerita dari Wimmy, RB mencoba menelusuri jejak lokasi bekas Gedung Percetakan ORIDA Curup. Namun seperti yang disampaikan Wimmy, saat ini kondisinya sudah terbilang tidak bisa terdeteksi lagi posisi pastinya. Karena di lokasi yang pernah dikunjungi Wimmy, sudah menjadi pemukiman padat penduduk serta sudah banyak bangunan baru yang berdiri di sana.

Bahkan beberapa warga yang sempat ditanyai RB di lokasi yang masuk wilayah Kelurahan Pasar Tengah berbatasan dengan Kelurahan Jalan Baru tersebut, tidak ada satupun yang mengetahui dan mendengar bahwa di sana pernah berdiri Gedung tempat percetakan ORIDA Curup.

‘’Saya sudah sejak lahir hingga umur 50 tahun sudah berada disini dan belum pernah mendengar adanya cerita soal Gedung Percetakan Uang atau ORIDA tersebut. Meskipun kawasan seberang sungai masuk wilayah Pasar Tengah dan kami ini masuk Pelabuhan Baru,’’ sampai Purian Hertolis (50) Ketua RT 4 RW 3 Kelurahan Jalan Baru yang tinggal tidak jauh dari perkiraan lokasi Gedng Percetakan ORIDA.

Senada, warga Kelurahan Pasar Tengah Dedi Goslow (44) yang sejak kakek neneknya tinggal dikawasan tersebut, juga belum pernah mendengar soal gedung percetakan ORIDA. Meskipun diakuinya dikawasan tempat tinggalnya masih cukup banyak bangunan lama peninggalan zaman Belanda. Apalagi kakeknya memang seorang berkebangsaan Jerman dan sudah sejak tahun 40-an tinggan dan menetap disana.

‘’Memang disini sebenarnya banyak bekas bangunan lama atau dari zaman belanda dulu. Termasuk yang sudah dibangun menjadi bangunan permanen ini dulunya cerita bapak saya, merupakan kandang kuda milik kakek saya yang asli orang Jerman. Tapi saya belum pernah mendengar soar cerita Gedung Percetakan ORIDA disini,’’ ucap Dedi sembari menunjukan bangunan yang dulunya bekas Kandang Kuda.(dtk)

Berita Lainnya

Periksa Semua Pemilik E-Warung

MUKOMUKO – Guna mendalami dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) …

%d blogger menyukai ini: