Sabtu , 28 Mei 2022
Home / Opini / Camat Gembira

Camat Gembira

 

INI tentang teman terbaik saya di Bali. Yang sebulan terakhir dua kali ke rumah saya di Surabaya.

Baru kemarin saya menemuinya di Bali setelah lebih 2 tahun tidak bisa ke pusat wisata itu. Sekalian ada acara BDL perusahaan logistik yang ”break the impossible” justru di tahun Covid 2021.

Nama perusahaan itu Bangun Desa Logistik tapi urusannya lebih banyak dengan penerbangan. Di situ saya bertemu untuk kali pertama: Dirut Batik Air Wisnu Wijayanto. Juga Dirut BDL yang awalnya saya hanya hafal nama depannya: Soeryo Bawono teman seiring di senam Monas sejak tahun 2010. Beberapa direktur anak perusahaan Angkasa Pura juga hadir dan bisa ngobrol bersama.

Malamnya saya masih bisa kongkow bersama mereka di belakang hotel: sambil makan malam di dekat pantai Canggu. Inilah juga kali pertama saya ke Canggu pantai yang lebih ke barat dari Seminyak, apalagi Kuta.

Tentu saya bertanya mengapa dipilihkan tidur di Canggu. “Inilah pantai yang sekarang lagi happening di Bali,” ujar Soeryo. Ia pun bercerita: dulunya turis bule suka ke Kuta. Ketika Kuta kian ramai, mereka bergeser ke barat: Seminyak. Ramai lagi. Mencari objek baru: Canggu.

Canggu pun kelak akan penuh dengan turis lokal dan Asia. Turis bule masih bisa ke yang lebih Barat lagi: jangan-jangan kelak sampai Gilimanuk.

Saya memang menemukan beberapa turis bule di Canggu. Di pantainya. Di lautnya mereka surfing. Di restorannya. Di barnya ikut nonton bareng Manchester City lawan Chelsea.

Saya salut pada mereka.

“Kan belum ada pesawat komersial asing yang mendarat di Bali. Bagaimana mereka bisa datang di sini,” tanya saya.

“Umumnya lewat Jakarta,” ujar Soeryo.

“Kan harus karantina 14 hari? Mereka mau?”

Mereka ini fans Bali yang die hard. Karantina 14 hari mereka jalani,” katanya. Itu karena mereka bisa tiga bulan atau lebih di Bali.

Ups… Ternyata ini masih belum tentang teman karibsaya di Bali itu.

Ini masih tentang BDL. Ini karena di forum BDL itu saya terperangah. Rapat kerjanya begitu ”liar”. Saya seperti menghadiri kebaktian di gereja Mawar Sharon: sebentar-sebentar menyanyi. Lagu-lagunya riang-gembira. Ada yang joget segala. Yakni ketika lagu dangdut Mendung Tanpo Udan berkumandang. Saya ikut joget sekadarnya: lagu itu dan gerakan itu ada di rangkaian senam-joget saya.

Di sela-sela lagu itu Soeryo mendeklarasikan perubahan nomenklatur manajemen BDL. Jabatan CEO ia hapus: diganti Camat. Jabatan direktur juga hilang: diganti Kades. Sebutan manajer diganti Kadus (kepala dusun). Dan manajer di bawahnya diganti dengan jabatan mantri.

Semua disambut dengan gembira. Tepuk tangan. Nyanyi lagi.

Saya sampai kehilangan angin ketika harus jadi pembicara berikutnya di raker itu. Saya berpikir sejenak: sebenarnya, kegembiraan itu timbul karena perusahaan maju, atau sebaliknya: perusahaan maju karena dikerjakan dengan gembira.

Saya minta bantuan dirut Batik Air untuk maju. Wisnu pasti bisa menjawab dengan baik. Saya perhatikan isi sambutannya sebelum saya: Wisnu pintar sekali. Orang-orang di ruang itu memanggilnya kapten. Saya pikir itu karena ia kapten pilot. Ternyata Wisnu double kapten. Di samping pilot pesawat komersial ia biasa menerbangkan Airbus 320 Wisnu juga kapten TNI-AU sebelum memilih pensiun muda dari kemiliteran. Ia alumni Akabri. Demikian juga ayahnya pensiun ketika berpangkat bintang satu TNI-AU.

Dilihat sesapuan Wisnu tidak menggambarkan sosok imajinatif seorang dirut. Apalagi dirut perusahaan sebesar Batik Air. Orang akan menyangkanya sebagai penyanyi rap. Badannya kurus, rambutnya tidak ditata, lengan baju kausnya digulung sampai dekat ketiak, celana jeans-nya robek-robek di lutut, dan anting-antingnya berkedip-kedip. Konon banyak tato pula.

Tapi saat berbicara terlihat benar kedalaman ilmu dan literaturnya. Selera humornya juga sangat baik. “Saya doakan BDL tidak bisa lebih maju lagi,” katanya menyentak. Wisnu memang baru saja melihat yang pertama: peserta raker tepuk tangan sampai tiga menit untuk merayakan kemajuan. “Kalau lebih maju lagi saya takut disuruh tepuk tangan 1 jam,” katanya.

Wisnu bisa bicara sangat detail dan mendalam soal ini: bagaimana perusahaan penerbangan harus bisa efisien. Di mana saja efisiensi bisa dilakukan. Bagaimana memilih jenis pesawat yang lebih efisien sebelum membelinya. Termasuk hubungan jumlah roda dengan kemampuan landasan.

Maka Wisnu tidak sedang guyon ketika menjawab pertanyaan saya tadi. “BDL maju karena dikerjakan oleh mereka yang berhati gembira. Gembira yang membuat maju,” katanya.

Saya pun ingat kata-kata doktor ahli tafsir Quran yang menjabat gubernur NTB dua periode: Tuan Guru Bajang. Ia menyebut hasil pengamatan di Mesir, saat mendapat gelar doktor di sana: sebuah kamera dipasang rahasia di pintu keluar masjid. Khusus untukmengamati raut wajah Jemaah yang baru keluar dari salat Jumat. “Tidak ada yang berwajah gembira. Sebagian besar mrengut,” katanya.

Camat Soeryo kelihatan mampu menciptakan kegembiraan di perusahaannya. Pun ketika masih menjabat CEO. Alangkah lebih horee-nya ketika ia mulaimenjabat camat nanti.

Jangan-jangan ia-lah satu-satunya camat di Indonesiayang bisa membuat gembira di lingkungannya. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Pengajian Potehi

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Panggiring At Alasroban”Ulun kawa pender banjar jua” kurang lebih. Aku bisa berbicara Banjar juga Butuh sedikit googling sampe buka 5 tab di browser untuk menerjemahken.

Mirza Mirwanusmana, asli Ciamis, ayahnya seorang dokter ahli, Pesantren MD Fatahillah, Saguling…. Sebelum selesai membaca edisi hari ini saya sudah menebak, dan pasti benar, bahwa Mbak Dini Kusmana itu putrinya Prof. Dr. dr. Dede Kusmana, Sp. JP (K), FACC. Beliau adalah guru besar FKUI yang juga bertugas di RS Pusat Jantung Harapan Kita.

Bramwaduuhhh….kue puro. Auto terbang entah berapa puluh tahun yang lalu. Tapi saya masih ingat sekali bentuk dan rasanya. Dari campuran tepung beras dan kelapa. Diisi gula merah. Dibungkus daun kelapa dan dikukus. Bentuknya segitiga berlian mirip museum Louvre. Paduan gurih dan manis.

Mbah MarsTanya Pak Dahlan, kalau ngundang penganjian njenengan itu kira-kira amplopnya berapa sih ? Wwkwkwk. Beda nggak kalau yang ngundang pengajian kampung dengan pengajian Eropah yang terdengar elit mondial gitu ? Ini pengalaman Ustad di kampung saya. Sehabis mengisi pengajian dikasih amplop. Langsung masuk saku. Yang menyerahkan amplop adalah si MC alias pembawa acara. Sampai di rumah amplop dibuka. Badala ternyata kertas susunan acara pengajian. Si Ustad terpingkal-pingkal. Dasar rejeki tak kan lari kemana, esoknya masih pagi-pagi buta ada tamu mengetuk pintu. Ternyata si MC. Ia berkali-kali mohon ampun sambil menyerahkan amplop yang sesungguhnya.

Jeramen BengesAbah kalo mau tahu lebih detail ttg wayang Potehi, bisa kontak dosen FIB UI, Ibu Dwi Woro Retno Mastuti. Satu2nya yg Sy tahu  seumur hidupnya meneliti ttg potehi.

Nor Idawatiumailah dansanak… bisakah minta no WA nya.. gasanbatakun habar, kalo pina ada rahaki han .. kawa bajajalan ka eropa

Gianto KweeKotabaru Gunungnya Bamega Bamega umbak manampur di salakarang Umbak manampur di salakarang lagu yang saya kenal waktu masih kanak kanak 60 tahun yang lalu Baris pertama kadang di plesetkan : Kotabaru Gunungnya bamega, Ibu guru g*n*ngnya di di d4d4

EtriBu Dini Kusmana Massabuau, saya jadi ingat tentang rubrik ‘Surat dari Perancis’.Cerita ringan, kadang tentang Kang Dadang (David) dan dua jagoannya di sela kesibukan jadi wartawan Kompas di Montpellier. Sudah 10 tahun gak nulis rubrik itu lagi..

Robban BatangSaya keturunan Portugal. Peranakan dari orang tua Tegal.Jawa Tengah.Satu desa. Rumah Kakek Nenek dari Bapak Ibu hanya dipisahkan jalan desa. Heu heu heu…

Aryo MbediunPortugal ; Peranakan dari orang tua Tegal. Portugis ; Peranakan dari orang tua Bugis. Cuma di Disway portugal itu bukan portugis.

Er GhamMembaca kisah dua wanita pada tulisan Abah, saya jadi ingin usulkan ke pemerintah. Agar diadakan kembali program transmigrasi. Namun berbeda dengan skema jaman dahulu yang mengirimkan keluarga dari daerah kurang maju di Jawa ke Kalimantan atau Sumatera buat tanam sawah atau jadi petani sawit. Penduduk yang dikirimkan justru para pemuda milenial yang masih jomblo namun siap menjadi petani, terutama ke wilayah Timur Indonesia yang pulaunya belum terlalu padat. Mereka menjadi petani dan mengawini penduduk setempat. Terjadi percampuran gen suku suku di Indonesia. Saat ini memang sudah terjadi, misal suku Jawa menikah dengan suku Banjar dari Kalimantan, Jawa Palembang, Sunda Minang, Betawi Bugis, Bali Ambon, Aceh Minahasa, dan seterusnya. Berdasarkan penelitian, secara genetis, semakin jauh asal geografi pada proses pencampuran 2 gen dari 2 wilayah yang berbeda, akan semakin baik hasilnya. Jadi tidak hanya perkawinan sesama suku saja. Tidak ada fanatisme kesukuan atau daerah di Indonesia. Ini wujud kebhinnekaan yang riil. Yang memperkaya Indonesia.

Ibnu KembarAduh di Klenteng Gudo. Kok ngak ada bener acara Abah ya. Itu Klenteng cuma 2 km dari rumah saya. Si kembar anak saya, sering ngajak nonton wayang Potehi itu. Saya penasaran isi ceramah Abah dalam pengajian Potehi itu.

SadewaBener juga kata dokter: “obat paling mujarab untuk susah tidur adalah datang  dengerin pengajian”. Baru baca sebentar artikel “pengajian potehi” sudah mulai kreyep-kreyep…zzzzzzz

yea a-inaTerimakasih pak Johan, paparan anda tentang wayang potehi menambah “saling kenal mengenal” falsafah orang Tionghoa bagi kita semua. Semoga dengan semakin saling kenal mengenal, keharmonisan hidup berdampingan di sini semakin baik. Sedikit keprihatinan, melihat segilintir orang malah cenderung berupaya menajamkan perbedaan-bahkan menghakimi standar moral kelompok lainnya sebagai lebih buruk dari kelompoknya. Lebih prihatin lagi bahwa diduga mereka melakukannya dengan motif kaya dan berkuasa. Tetapi optimistisme seakan mekar lagi, disaat baca Disway karena Abah Dis dan sebagian besar para komentator disini punya semangat yang sama “perbedaan itu untuk saling kenal mengenal-bukan dipertentangkan”

Udin SalemoPengajian Abah Dis pastinya bukan tentang sedekah. Dan Abah Dis sudah selesai dengan urusan amplop buat ustadz. Alias sudah tidak mau menerima uang hasil berbagi ilmu dan pengalaman. Lha, wong jadi menteri aja segala fasilitas yang disediakan negara tidak mau ambil. Saya selalu kagum dengan tkw. Ada yang sukses, karena pandai memanajemen keuangan. Ada juga yang setelah selesai jadi tkw tetap blangsak, karena mismanagement uang hasil keringat di rantau negeri orang. Saya lebih kagum lagi dengan tkw yang dapat jodoh di negara perantauan bisa membina keluarga yang samawa. Berjaya dalam hidup di negeri orang. Kalau mau karantina mandiri di rumah sendiri setelah kunjungan dari luar negeri, jadilah pejabat eselon I keatas, hahaha… oye.. oye… assolole…

Berita Lainnya

HAPPY WEDNESDAY 197: Misi Brand Indonesia di Unbound Gravel

      Oleh: AZRUL ANANDA LUPAKAN trauma. Tuntaskan yang belum tuntas. Tahun ini, tepatnya …

%d blogger menyukai ini: