Jumat , 27 Mei 2022
Home / Madrasah / TAUSIYAH: Memahami Makna Fitrah

TAUSIYAH: Memahami Makna Fitrah

Dr. Iwan Romadhan Sitorus, MHI
Oleh: Dr. Iwan Romadhan Sitorus, MHI

BULAN Ramadan telah berlalu, di bulan yang mulia ini, kita merayakan hari kemenangan, karena telah berhasil mengendalikan hawa nafsu kita, dengan berbagai tantangan dan godaan.

Berbagai hikmah, faedah dan kenikmatan puasa telah kita rasakan dan dosa-dosa kita yang telah lalu insyaallah diampuni oleh Allah Azza Wa Jalla, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadits, Dari Abu Hurairah dimana Nabi Muhammad SAW bersabda

“Barang siapa telah melaksanakan puasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lewat.” H.R Bukhari dan Muslim.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, hari raya Idul Fitri atau kembalinya jiwa dan raga kita kepada fitrah, jiwa yang suci, ibarat kertas putih yang bersih, akan sempurna tatkala terhapusnya dosa kita kepada Allah diikuti dengan terhapusnya noda dan dosa kita kepada sesama manusia.

Dalam rangka menyikapi kesalahan orang lain Allah SWT menunjukan tiga kelas manusia, sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Imran ayat 133 dan 134, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang seluas langit dan bumi  disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain.

Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Q.S Al-Imran ayat 133.

Berdasarkan ayat tersebut dapat diketahui bahwa dalam menyikapi kesalahan orang lain terdapat 3 tingkatan yaitu:   Pertama adalah, yaitu manusia yang mampu menahan amarah pada saat ada orang yang berbuat salah kepada kita.

Kedua adalah, yaitu manusia yang memaafkan kesalahan orang lain. Manusia ini tidak hanya mampu menahan amarahnya ketika ada orang lain yang berbuat salah kepadanya tetapi dia mampu dengan ikhlas memaafkannya.

Ketiga adalah, yakni manusia yang bukan sekedar mampu menahan amarah, atau mampu memaafkan kesalahan orang lain, tetapi lebih dari itu, manusia tersebut mampu berbuat baik kepada orang yang pernah melakukan kesalahan kepadanya. Kelompok inilah yang paling disukai oleh Allah SWT. (cw4)

Penulis: Dosen Pascasarjana UIN FAS

Berita Lainnya

Menggiring Besar Permanen Tahun Ini

  4 Tahun Mangkrak MUKOMUKO, rakyatbengkulu.com – Mangkrak sekitar empat tahun, penggantian jembatan menggiring besar …

%d blogger menyukai ini: