Kamis , 7 Juli 2022
Home / Berita Utama / Biiznillah (33), Dosen Muda Penulis Sengketa Tuhan dan Kebenaran

Biiznillah (33), Dosen Muda Penulis Sengketa Tuhan dan Kebenaran

Salah satu intelektual muda Islam dari Bengkulu, Biiznillah, MA yang juga merupakan dosen di UINFAS Bengkulu. foto:dok rb

.

Biiznillah, MA, merupakan salah satu intelektual muda Islam dari Bengkulu. Banyak lika-liku kehidupan yang dilalui pria yang berprofesi Dosen Luar Biasa ini. Bahkan pernah dua kali mendapat beasiswa kuliah di Iran, namun batal dijalaninya. Bagaimana kisahnya, simak liputannya.

M. RIZKI AMANDA LUBIS, Kota Bengkulu.

BIIZ, demikian ia disapa. Ia tercatat sebagai Dosen Luar Biasa di Fakultas Tarbiyah dan Tadris Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri Fatmawati Soekarno (UINFAS) dari 2019 lalu.

Kecintaannya pada ilmu filsafat, pemikiran, pergerakan dan juga sains telah membuat pria kelahiran Liwa, 10 Agustus 1989 ini, mampu mengenyam pendidikan hingga Strata 2 dengan beasiswa penuh.

Biiz lahir di Desa Umbul Baru. Sebuah desa kecil di Kecamatan Balik Bukit Kota Liwa Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung. SD hingga SMA ditempuhnya di Kota Liwa. Mulai dari SDN 02 lanjut ke Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Liwa, SMAN 1 Liwa.

Sejak duduk di bangku SMA, anak bungsu dari enam bersaudara ini cukup berbeda dari siswa lainnya. Di usia remaja itu, ia sudah gemar membaca buku-buku filsafat yang ada di perpustakaan sekolah.

BACA JUGA: Napi Pengendali Bisnis Narkoba Kembali Dituntut 12 Tahun Penjara

“Sebenarnya buku itu dibawa oleh Pustakawan bernama Sarinten, lulusan S-1 Sastra Jerman di UI. Jadi saya sering membaca buku-buku filsafat, tentang pemikiran juga novel yang dibawa pustawakan.

Diantaranya yang saya ingat ada buku Agatha Christie tentang detektif, juga buku-buku pemikiran Islam seperti Kanzul Bahri dan buku-bukunya Taufik Ismail,” katanya di Graha Pena RB, (14/6).

Perpustakaan menjadi andalan satu – satunya bagi Biiz untuk membaca banyak buku agar menambah ilmu pengetahuannya. Sebab, saat itu di desanya terlalu banyak keterbatasan untuk mendapatkan berbagai informasi seputar ilmu filsafat dan sains.

“Liwa bagi saya merupakan suatu wilayah yang terpencil pada saat itu, jauh dari jangkauan teknologi maupun informasi. Kehidupan kita saat itu terbatas kalau kita tidak baca buku. Namun saya menemukan suatu tempat yang dimana saya bisa melihat ruang yang luas melalui buku, yakni di perpustakaan” terang Biiz.

BACA JUGA: Kabur ke Muratara, Pelaku Pembobol Kafe Berhasil Dibekuk

Selain itu juga, kakak Biiz yang kuliah di UINFAS bila pulang ke Liwa selalu membawa buku-buku tentang pemikiran dan pergerakan. Hal ini membuat Biiz semakin tertarik dengan hal-hal yang berbau pemikiran. Selepas SMA tahun 2006, Biiz pun merantau ke Bengkulu, melanjutkan kuliah di UINFAS (saat itu masih bernama STAIN Bengkulu).

Baca Selanjutnya>>>

Berita Lainnya

Manfaatkan Digitalisasi, Ketua PWI: Pendakwah Perhatikan Rambu ITE

Disrupsi informasi dan kemajuan teknologi membawa perubahan signifikan terhadap budaya dan pola komunikasi dakwah.